Pengukuran dan evaluasi kinerja Lembaga Pendidikan

Lembaga pendidikan merupakan salah satu elemen penting di masyarakat. Ada berbagai jenis lembaga pendidikan yang bisa Anda temukan saat ini mulai dari sekolah hingga pusat pelatihan. Lembaga pendidikan dikategorikan sebagai suatu organisasi non profit yang tidak berorientasi pada pengambilan keuntungan. Meski demikian, beberapa lembaga pendidikan, terutama yang dimiliki oleh swasta atau perorangan, tetap merupakan suatu badan bisnis yang perlu dijalankan secara profesional.

Oleh karena itu, layaknya badan bisnis lainnya, perlu diadakannya pengukuran kinerja pada lembaga pendidikan untuk melihat sejauh mana strategi bisnis yang dijalankan lembaga pendidikan tersebut dapat mempengaruhi realisasi di lapangan.

Salah satu konsep yang dapat digunakan untuk proses pengukuran kinerja di lembaga pendidikan adalah BSC atau Balanced Scoreboard. Konsep ini tidak hanya dapat mengukur kinerja secara lebih efektif dan efisien namun juga mampu memberikan hasil yang cukup akurat serta dapat digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan strategi bisnis lembaga pendidikan.

Secara umum, BSC biasanya digunakan pada perusahaan atau sektor bisnis lainnya untuk mengukur performa bisnis.
Meski demikian, konsep ini juga ternyata dapat diterapkan untuk mengukur performa lembaga pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga lembaga pendidikan yang lebih tinggi seperti kampus atau universitas. BSC pada dasarnya menggunakan elemen yang dikenal dengan nama DRIVE untuk mengidentifikasi tujuan serta strategi yang digunakan pada organisasi apapun, baik badan bisnis maupun lembaga pendidikan.
Apabila diterapkan pada lembaga pendidikan seperti universitas, DRIVE akan mewakili komponen-komponen sebagai berikut:
  1. D mewakili Direction atau tujuan yang ingin dicapai oleh lembaga pendidikan tersebut.
  2. R mewakili Resources atau sumber daya, dalam hal ini sumber daya keuangan yang dibutuhkan untuk menjalankan lembaga pendidikan tersebut.
  3. I mewakili impressing atau kesan terhadap anak didik, baik pada masa lalu, sekarang, atau di masa yang akan datang.
  4. V mewakili Vehicle atau sarana serta proses yang Anda gunakan untuk mencapai tujuan Anda.
  5. E mewakili Evolution Engine atau mesin evolusi yang mana merupakan orang-orang yang berada di balik lembaga pendidikan yang bekerja untuk tercapainya satu tujuan.
Dari penjelasan di atas, bisa dilihat bahwa BSC telah mencakup semua aspek yang perlu diperhitungkan ketika akan melakukan proses pengukuran kinerja.

Penerapan BSC pada lembaga pendidikan dijalankan dengan proses yang menggunakan elemen DRIVE dengan urutan dari bawah ke atas agar tujuan dapat tercapai secara optimal. Jadi, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memastikan bahwa orang-orang yang bekerja di lembaga pendidikan memiliki visi serta misi yang sama untuk mencapai tujuan tersebut.

Bila orang-orang ini mampu mengoptimalkan potensi mereka, maka proses pencapaian tujuan akan dapat berjalan dengan baik. Dengan melihat komponen-komponen pada DRIVE sebagai komponen yang berdiri sendiri namun tetap saling berhubungan, Anda akan mampu menyusun rencana serta strategi dalam mencapai tujuan lembaga pendidikan Anda. Selain memperhatikan komponen pada DRIVE, Anda juga perlu memperhatikan beberapa perspektif yang juga menjadi elemen penting dalam pengaplikasian BSC pada lembaga pendidikan untuk tujuan pengukuran kinerja.

Lembaga pendidikan yang lebih tinggi seperti universitas telah menggunakan BSC sebagai suatu cara untuk mempertahankan kualitas pada sektor yang berkembang secara cepat yang ditujukan untuk menyediakan pendidikan yang bermutu tinggi pada mahasiswa serta menciptakan wadah riset bagi para pengajar. Di bawah ini adalah contoh BSC yang digunakan di salah satu universitas di Amerika.

BSC ini diterapkan di setiap departemen di universitas untuk mengkoordinasikan tersedianya pendidikan yang berkualitas. Berikut ini adalah contoh tolak ukur perspektif yang digunakan pada toko buku di universitas tersebut yang merupakan satu dari sekian banyak departemen yang berada di universitas tersebut. Tolak ukur BSC ini digunakan untuk mengukur pencapaian dalam bidang SDM serta kemampuan untuk menawarkan layanan yang beragam.

Ada berbagai manfaat yang bisa didapatkan dari penggunaan konsep BSC dalam mengukur kinerja lembaga pendidikan. Adapun manfaat tersebut antara lain adalah:
  1. Mengklarifikasikan dan mengkomunikasikan strategi ke seluruh bagian organisasi.
  2. Menyelaraskan sasaran tiap departemen dan individu dengan strategi organisasi.
  3. Mengkaitkan sasaran strategis dengan target jangka panjang dan anggaran tahunan.
  4. Mengidentifikasikan dan menyelaraskan inisiatif strategi.
  5. Melaksanakan peninjauan strategi secara periodik.
  6. Mendapatkan umpan balik yang dibutuhkan untuk perbaikan strategi.

Lebih jauh lagi, penerapan BSC dapat memberikan manfaat lain berupa:
  1. Sebagai alat untuk menelusuri kinerja terhadap harapan konsumen sehingga dapat membawa lembaga pendidikan lebih dekat pada konsumen, dalam hal ini mahasiswa, serta membuat seluruh anggota atau karyawan organisasi terlibat dalam upaya memberi kepuasan kepada pelanggan.
  2. Memotivasi karyawan untuk melakukan pelayanan sebagai bagian dari mata rantai konsumen dan pemasok internal.
  3. Mengidentifikasi berbagai pemborosan sekaligus mendorong upaya-upaya pengurangan terhadap pemborosan tersebut.
  4. Membuat suatu tujuan strategis sehingga dapat mempercepat proses pembelajaran organisasi.
  5. Membangun konsensus untuk melakukan suatu perubahan dengan memberi penghargaan atas perilaku yang diharapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar